Bedah Jiwa (Spoiler)

Safir menghujamkan kepala ketembok sebagai aksi tuntutan pada takdir Tuhan yang dianggapnya bertele-tele. Mengemis kematian yang tak kunjung datang. Akhirnya, ia putuskan untuk menonaktifkan pancaindranya. Bukan tidak bersyukur. Tapi, ia ingin damai.

“Woi, KAFIR! Bagaimana rasanya sampah yang kau telan tiap hari?” seorang pengunjing datang menghantam.

“Lebih nikmat ketimbang makanan hotel bintang lima yang kau curi dari  jelata”.

Bertahun-tahun berjuang mencari kebenaran. Memperdalam ilmu pengetahuan dan memperkokoh keberanian. Suatu titik dikala bekal tercukupi, ia mempelopori gerakan keadilan. Sederet tulisannya berisikan kritik terhadap kebatilan menghiasi halaman utama media cetak.

Keberanian dan kecerdasaannya menuai banyak teror. Aksi cekam-menyekam berakhir pada penangkapannya. Belum sempat bertemu Bapak, ia malah mencicipi sedapnya tanggan kepal algojo.

Bertahun-tahun lamanya, ia mengunci mata dan mulut. Kebal akan cacian. Membutakan mata terhadap perlakuan hardik dihadapannya. Dan membungkamkan mulut atas kebenaran.

Ia bosan menahan lapar dan cacian. Akhirnya, ia melanjutkan hidup. Baju tanpa warna membalut tubuh penuh luka. Berjalan pada takdir yang menertawakan kegigihannya.

Indralaya, Agustus 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s