Naskah Drama/ Naskah Lakon

Hakikat Drama

Secara etimologi drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak (Herymawan dalam Supriyadi, 2013:1). Dalam artian, drama memiliki gerak dan aksi yang kelak menjadi tindakan akting guna menuntun lakon pada penggarapan matang, mendalam, dan penuh pertimbangan (Endraswara, 2011:11—12).

Seiring perkembangan jaman, drama dipandang dalam arti lebih luas yaitu sebagai salah satu genre sastra dan karya seni mandiri. Menurut Dewojati (2012:5) “Drama karya multidimensional dapat dikaji dari banyak sisi”. Selanjutnya, Emzir dan Rohman (2015:261) mengatakan “Drama menyangkut dua aspek, yakni aspek cerita sebagai karya sastra (berupa naskah) dan aspek pementasan berupa teater”. Drama sebagai salah satu genre sastra disejajarkan bersama puisi dan prosa. Sementara, drama pementasan menjadi jenis kesenian mandiri berintegrasi dengan jenis kesenian lainnya (Waluyo, 2002:2).

Saat ini para ahli memiliki beragam tafsir berdasarkan dua aspek tersebut. Drama berbentuk karya sastra berguna menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan pertikaian dan emosi melalui lakuan dan dialog dalam kehidupan sehari-hari (Kosasih, 2012:132). Fauzi (2007:1—9) mengemukakan “Drama ialah bentuk sastra tulis menyajikan dialog dan perintah pentas, sehingga drama harus ditulis berdasarkan persyaratan pentas agar dapat dimainkan oleh para pemeran”. Senada dengan itu, Supriyadi (2013:3) menjelaskan “Drama adalah kisah kehidupan manusia baik dalam bentuk puisi maupun prosa yang disajikan dalam bentuk gerak dan percakapan/dialog oleh pada pelakon dihadapan pendengar atau penonton”.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa drama dapat dikaji dari dua aspek, yaitu aspek karya sastra dan aspek pementasan. Drama merupakan karya sastra disajikan berbentuk dialog dan teks samping yang diproyeksikan dalam seni pementasan dihadapan penonton.

Hakikat Naskah Drama

Drama merupakan jembatan penghubung antara seni pementasan dan karya sastra. Menurut Pratiwi dan Siswiyanti (2014:14) “Drama dapat disikapi dalam dua bentuk, yaitu dalam bentuk karya sastra (text play) dan drama teater (pementasan)”. Drama dapat dikaji sebagai karya sastra karena drama dapat dibaca dan dianalisis secara tekstual dengan menggunakan medium bahasa dalam penciptaannya (Emzir dan Rohman, 2015:61).

Clay Hemilton dan Koning (dikutip Dewojati, 2012:8) menyebutkan “Drama sebagai karya sastra yang ditulis dalam bentuk percakapan dan dimaksudkan untuk dipertunjukan oleh aktor”. Senada dengan hal itu, Emzir dan Rohman (2015:61) mengatakan bahwa “Drama adalah karya sastra yang menggambarkan aktivitas kehidupan manusia yang dalam penceritaannya menekankan dialog, laku, dan gerak”.

Berkaitan dengan pendapat di atas, Endraswara (2011:37) mengatakan “Naskah drama adalah kesatuan teks yang membuat kisah”. Lebih lanjut, Waluyo (2002:6) menjelaskan “Naskah drama disebut juga drama lakon…Sebagai salah satu genre sastra, drama naskah dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) dan struktur batin (semantik, makna)”. Kemudian, Komaidi (2007:228—231) menegaskan “Pengertian naskah drama adalah panduan dalam bermain drama atau teater. Naskah drama tidak mengisahkan cerita secara langsung, melainkan melalui penuturan dialog para tokoh. Naskah berisi percakapan (dialog) para tokoh dan keterangan atau petunjuk pementasan secara lengkap”.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa naskah drama merupakan karya sastra yang penceritaannya melalui dialog dan keterangan petunjuk laku atau teks samping. Tujuan penciptaan naskah drama umumnya untuk dipementaskan.

Menulis Naskah Drama

Menulis naskah drama merupakan kegiatan produktif dan ekspresif. Sama seperti halnya penulisan naskah-naskah sastra yang lain, sumber penulisan naskah drama berasal dari pengalaman tentang kejadian-kejadian atau peristiwa dan keadaan sosial masyarakat. Menurut Pratiwi dan Siswiyanti (2014:181) “Penulis naskah drama melibatkan pembaca untuk memasuki sebuah model dunia kehidupan yang dibangun dalam sebuah wilayah budaya hasil interprestasi dari dunia di sekitarnya”.

Menurut Riantiarno (dalam Dewojati, 2012:35) mengemukakan 3 syarat utama bagi para calon penulis naskah drama, sebagai berikut.

Memiliki kemauan dan kebutuhan berekspresi melalui tulisan, menulis yang dirasa harus ditulis, dan tidak bosan untuk terus belajar dan terus menulis.

  • Sifat moralitas penulisan yang sering dianggap “kuno”. Artinya, naskah drama selalu berhubungan erat dengan perilaku manusia, dan sering disebut sebagai cermin kehidupan manusia. Selalu ada hubungan sebab akibat. Misal: yang baik mendapat anugerah, dan yang jahat menerima hukuman setimpal.
  • Setelah tema ditentukan, lalu menuliskan sinopsis dan membuat struktur (kerangka) naskah. Kerangka atau bagian drama yang paling sederhana mencakup tiga hal berikut.
  1. Pembuka/ prolognya seperti apa.
  2. Isi: Pemaparan → Konflik → Klimaks → Antiklimaks → Resolusi.
  3. Penutup/ epilog/ penyelesaian (Solusi atau keputusan suatu akibat): Apakah berakhir happy ending ataukah sad ending.

Dalam menulis naskah drama, pengarang membayangkan action dan dialog aktor di atas panggung. Jadi, action dan dialog adalah bagian yang sangat penting (Dewojati, 2012:3). Senada dengan Dewojati, Aston dan Savona (dikutip Dewojati, 2012:24) menyatakan bahwa “Drama merupakan susunan dialog para tokohnya (yang disebut dengan haupttext) dan petunjuk pementasan untuk pedoman sutradara yang disebut dengan nebentext atau teks samping”.

Kisah kehidupan yang dikembangkan dalam drama bertumpuh pada konflik. Konflik berkaitan dengan upaya tokoh untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan, kecendrungan, atau harapan. Pertentangan antara kencendrungan-kecendrungan itu biasanya terjadi dalam memilih nilai moral kehidupan (Pratiwi dan Siswiyanti, 2014:182).

Seorang penulis naskah drama mendasarkan teks drama pada karakter, situasi, dan subjek. Karakter berguna untuk mengembangkan konflik. Penulis juga memanfaatkan rentetan situasi, dimulai dengan situasi yang akan berkembang selama action terlaksana. Materinya berasal dari sumber kehidupan, sedangkan pementasan drama terletak pada bahan penggarapannya. Subjek atau tema ialah ide pokok lakon drama. Pengarang juga menggunakan dialog dan lakuan (action). Dialog untuk menggambarkan karakter tokoh dan action fungsinya melebihi dialog karena lakuan. Lakuan lebih menentukan dalam pertunjukan drama (Suroso, 2015:70—71).

Pratiwi dan Siswiyanti (2014:182—194) menjelaskan menulis naskah drama dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah sebagai berikut.

  • Kegiatan memilih objek/menentukan ide sumber tulisan merupakan langkah awal dalam menulis naskah drama. Ide penulisan dapat bersumber dari pengalaman pribadi, pengamatan terhadap berbagai peristiwa yang menarik dalam kehidupan sehari-hari, dan dari hasil membaca.
  • Penentuan tema cerita. Tema adalah gagasan cerita yang mengandung nilai atau pesan moral dan berfungsi untuk mengontrol ide pengarang. Seorang penulis dapat memilih dan menentukan tema antara lain dari pengalaman pribadi, pengamatan terhadap berbagai peristiwa yang menarik dalam kehidupan sehari-hari, dan dari hasil membaca atau perenungan.
  • Pemilihan tokoh dalam cerita. Tokoh merupakan individu yang dipilih penulis naskah drama untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Dikembangkan dengan sisi-sisi kepribadian yang kompleks, bervariasi, dan seringkali ambigu.
  • Pemilihan setting cerita dalam naskah drama harus memberikan kesan realistis kepada pembaca agar pemahaman terhadap cerita menjadi lebih utuh. Terdapat tiga elemen pembangun setting, yakni fisik, psikis, dan sosial. Setting dinaskah drama berupa ruang, waktu, dan suasana harus konkrit dan mampu divisualisasikan dalam pementasan drama.
  • Kerangka alur adalah rangkaian keseluruhan peristiwa yang dikembangkan berdasarkan hubungan sebab-akibat dengan bertumpuh pada konflik tokoh.

Naskah yang baik kaya dengan ide-ide baru dan dapat diteliti melalui nilai sastranya (Supriyadi, 2013:214). Kemudian, Derek Bowskill (dikutip Supriyadi, 2013:214—215) memaparkan sebuah naskah yang baik sebagai berikut.

  • Mampu mencetuskan kegembiraan dan ketakutan-ketakutan manusia yang akan berbaur dengan kegembiraan dan ketakutan yang ada pada penonton.
  • Memberikan kekayaan batin, membebaskan manusia dari prasangka-prasangka dan memberikan rasa senang.
  • Menciptakan situasi-situasi yang membutuhkan jawaban, mendorong imajinasi dan menyediakan pengalaman-pengalaman intens, kuat, dan hebat.
  • Tidak membuat pertanyaan-pertanyaan.
  • Dialognya enak, bahasanya mudah untuk menyatakan perasaan sehingga tema yang dikandung dapat terwujudkan.
  • Dibaca berulang-ulang bisa digali dan menimbulkan pengertian-pengertian yang lebih jelas.
  • Melontarkan kebenaran dari pandangan seseorang tentang kondisi manusia. Asli, luas, mendalam, dan tidak palsu.

Namun, dari paparan Derek Bowskill tidak menyatakan tentang struktur naskah drama yang baik. Naskah drama yang baik harus memiliki struktur kuat dan jelas. Kejadian-kejadiannya mungkin terjadi, susunannya tidak semerawut, konfliknya jelas, klimaksnya tepat dan begitu pula dengan penyelesaiannya tepat (Supriyadi, 2013:215).

Ragam Naskah Drama

Menurut Endraswara (2011:37) ragam naskah drama sebagai berikut.

  • Naskah yasan, naskah drama yang sengaja diciptakan sejak awal sudah berupa naskah drama.
  • Naskah garapan, naskah drama yang berasal dari olahan cerita prosa atau fiksi diubah menjadi naskah drama.
  • Naskah terjemahan, naskah drama yang berasal dari bahasa lain, diperlukan adopsi dan penyesuaian dengan budayanya.

Sementara Pratiwi dan Siswiyanti (2014:21—27) mengklasifikasikan  naskah drama berdasarkan isi.

  • Naskah Drama Tragedi

      Naskah drama yang menceritakan jalan hidup tokoh yang erat dengan penderitaan, kesedihan, situasi yang tidak menguntungkan, dan berakhir dengan nasib tokoh yang tragis. Diindentikan dengan nasib tokoh yang selalu menderita tanpa batas dari awal sampai akhir dan selalu sad ending.

  • Naskah Drama Komedi

      Naskah drama dengan jalan cerita dan tema yang ringan, bersifat menghibur, dengan seluruhan ringan di dalamnya yang dapat bersifat menyindir pihak-pihak tertentu, dan selalu happy ending.

  • Naskah Drama Tragikomedi

      Naskah drama yang menggunakan alur duka cita, tetapi berakhir dengan kebahagiaan. Alur ceritnya lebih variatif dan mampu mewujudkan keinginan pembaca yang menghendaki akhir cerita yang membahagiakan dengan kemenangan tokoh utama dalam mempertahankan tema cerita.

Dari penggolongan di atas dapat disimpulkan beragam naskah drama berdasarkan asal dan isinya. Dipandang dari asalnya, naskah drama tergolong menjadi tiga, yaitu naskah yasan, naskah olah, dan naskah terjemahan. Ketiga naskah tersebut naskah yasan adalah paling baik karena naskah tersebut sengaja diciptakan berupa naskah drama. Artinya, naskah tersebut memiliki tingkat keaslian ide yang lebih dibandingkan dua naskah lainnya. Sementara, klasifikasi menurut Pratiwi dan Siswiyanti terdapat tiga ragam naskah drama, yaitu naskah drama tragedi, naskah drama komedi, dan naskah drama tragikomendi. Secara keseluruhan dari ketiganya, naskah drama tragedikomedi memiliki alur yang lebih variatif dibandingkan dua lainnya.

 

Struktur Naskah Drama

Struktur baku pembangun naskah drama menurut Endraswara (2011:21—24) sebagai berikut.

  • Babak membentuk satu keutuhan kisah kecil. Suatu babak dalam naskah drama adalah bagian dari naskah drama itu yang merangkum semua peristiwa yang terjadi di satu tempat pada kurun waktu tertentu.
  • Adegan ialah bagian dari babak yang batasnya ditentukan oleh perubahan peristiwa berhubung datangnya atau perginya seorang atau lebih tokoh dalam cerita di atas pentas.
  • Dialog merupakan bagian dari naskah drama yang berupa percakapan antara satu tokoh dengan tokoh lain.
  • Prolog bagian naskah yang ditulis pengarang pada awal bagian. Pada dasarnya prolog merupakan pengantar naskah berisi satu atau beberapa keterangan pengarang tentang cerita yang akan disajikan.
  • Epilog yaitu bagian akhir penutup drama, biasanya memberikan simpul nilai drama.

Kelima struktur baku di atas tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Umumnya, kelima hal tersebut merangkai sebuah cerita yang unik. Drama akan menarik apabila mengikuti pola struktur itu. Walaupun struktur tersebut bukan satu-satunya dan telah baku. Contohnya, drama absurd yang kurang jelas strukturnya.

Unsur Naskah Drama

Sebagai karya sastra, drama memiliki unsur-unsur pembangun. Menurut Waluyo (2002:8—29) “Unsur-unsur naskah drama terdiri atas plot atau kerangka cerita, penokohan atau perwatakan, dialog (percakapan), setting, tema, amanat, petunjuk teknis, dan drama sebagai interpretasi kehidupan”. Sementara, Fauzi (2007:25—33) menjelaskan “Unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah naskah drama adalah, tokoh, alur (plot), dialog (percakapan), setting, proposisi (logika dari plot), karakterisasi (perwatakan) dan tema”. Kemudian, Pratiwi dan Siswiyanti (2014:28) menyatakan “Naskah drama dibangun oleh dua unsur utama, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur Intrinsik meliputi penokohan, plot, latar (setting), tema, dan dialog. Unsur ekstrinsik berupa nilai-nilai terkandung dalam naskah drama dan unsur pendukung lainnya”.

Jika dipilih dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa naskah drama tersusun atas, dialog, teks samping, tokoh/penokohan, latar, alur, tema, dan amanat. Drama sebagai interpretasi kehidupan dan proposisi bukanlah termasuk dalam unsur drama. Drama sebagai interpretasi kehidupan hanyalah interpretasi seorang pengarang terhadap sebuah sisi kehidupan. Tontonan atau naskah yang dihasilkan ditentukan oleh sikap penulis dalam menginterpretasikan kehidupan ini. Proposisi adalah logika dari plot, artinya alur drama tidak memberikan kesempatan pada permasalahan lain yang tidak ada hubungannya dengan masalah utama. Propisisi tercakup dalam unsur alur/plot. Penjelasan mengenai tiap-tiap unsur adalah sebagai berikut.

  • Dialog

Pratiwi dan Siswiyanti (2014:105) mengemukakan bahwa “Dialog berisi percakapan antartokoh yang di dalamnya terdapat petunjuk lakuan dan menggunakan ragam bahasa lisan yang komunikatif”. Senada dengan itu, Waluyo (2002:20) mengemukakan “Ciri khas suatu drama adalah naskah itu berbentuk percakapan atau dialog”. Dalam menyusun dialog ini pengarang harus benar-benar memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam kehidupan sehari. Pembicaraan yang ditulis oleh pengarang naskah drama adalah pembicaraan yang akan diucapkan dan harus pantas di ucapkan di atas panggung. Ragam bahasa dalam dialog tokoh-tokoh drama adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam bahasa tulis. Dialog juga harus bersifat estetis, artinya memiliki keindahan bahasa.

Secara sederhana dialog dapat diartikan sebagai ciri khas sebuah drama yang merupakan percakapan yang terjadi antartokoh dalam drama dan berfungsi sebagai pengembangan cerita. Dialog dalam drama haruslah komunikatif, memilki kesesuaian dengan ragam bahasa tutur, plot, dan karakter para tokoh, serta memiliki nilai estetis dan literer.

Pratiwi dan Siswiyanti (2014:109—113) menyebutkan fungsi dialog antara lain.

  • Mengemukakan persoalan secara langsung
  • Memperkenalkan tema cerita kepada pembaca
  • Dialog berfungsi untuk memperkenalkan setting cerita kepada pembaca
  • Dialog berfungsi untuk menjelaskan peran tokoh dalam cerita

Pratiwi dan Siswiyanti (2014:105—108) juga mengklasifikasikan bentuk dialog naskah drama sebagai berikut.

  • Dialog dengan ciri khas dialek wilayah tertentu

     Dialog naskah drama yang ditulis dengan menggunakan ciri yang diangkat dari gaya percakapan sehari-hari masyarakat di suatu daerah atau etnis tertentu dimaksudkan untuk memberi suatu variasi, menunjukkan latar belakang kedaerahan pengarang, dan memperkuat tema cerita.

  • Dialog dalam bentuk puisi

     Adapun hal yang harus diperhatikan dalam dialog jenis ini, yakni (1) bentuk puisi dipaparkan dalam bentuk bait-bait sedangkan naskah drama dipaparkan dalam bentuk percakapan dan tanya-jawab, (2) rima dialog dalam bentuk pusi memiliki struktur yang pakem karena menyangkut tatanan baku puisi lama, (3) diksi pemaparan percakapan memiliki kekhasan, yakni menggunakan gaya puisi yang ditulis dalam bentuk bait-bait.

  • Teks Samping

Menurut Suroso (2015:17) “Petunjuk teknis atau teks samping berupa teks yang memberi informasi tentang tokoh, waktu, suasana pentas, musik/suara, keluar masuknya aktor, keras lemahnya dialog, dan perasaan tokoh”. Teks samping ditulis berbeda dengan teks dialog, bisa berupa huruf besar semua atau huruf miring. Senada dengan itu, Waluyo (2002:29) mengatakan “Teks samping juga berguna sekali untuk memberikan petunjuk kapan aktor harus diam, pembicaraan pribadi, lama waktu sepi antar kedua pemain, jeda–jeda kecil atau panjang, dan sebagainya”. Kemudian, Komaidi (2007:231) juga menyebutkan bahwa “Dalam naskah drama terdapat petunjuk pementasan. Petunjuk itu meliputi gerakan-gerakan yang harus dilakukan pemain, tempat terjadinya peristiwa, benda-benda yang diperlukan pada setiap babak, dan keadaan panggung dalam setiap babak”.

Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa petunjuk teknis atau teks samping memiliki peran penting tidak hanya mengatur para pemain dalam bertindak, akan tetapi juga memberikan petunjuk penggambaran panggung pada setiap babak.

  • Tokoh dan Penokohan

Pelaku yang mengemban peristiwa dan menciptakan jalinan cerita yang padu disebut tokoh. Watak  merupakan ciri-ciri ekspresi yang melekat pada manusia yang teramati pada kebiasaan (sifat), sikap dan perangai (Pratiwi dan Siswiyanti, 2014:30). Berkaitan dengan itu, Wiyatmi (2009:50) mengemukakan bahwa “Tokoh dalam drama mengacu pada watak (sifat-sifat pribadi pelaku), sementara pelaku mengacu pada peran yang bertindak atau berbicara dalam  hubungannya dengan alur peristiwa”.

Dengan kata lain, susunan tokoh adalah daftar tokoh-tokoh yang berperan dalam drama itu. Tokoh dalam cerita yaitu orang yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa-peristiwa yang digambarkan di dalam plot. Dari pengertian mengenai tokoh dan penokohan, istilah penokohan memiliki pengertian yang lebih luas sebab sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Watak tokoh itu akan menjadi nyata terbaca dalam dialog dan teks samping.

Aminuddin (2004:79—80) mengungkapkan bahwa perwatakan adalah penggambaran sikap dan sifat seorang tokoh. Perwatakan dapat dilihat melalui (1) tuturan langsung pengarang, (2) gambaran lingkungan kehidupan tokoh atau cara berpakaiannya, (3) melihat bagaimana tokoh tersebut berbicara tentang dirinya sendiri, (4) menunjukkan bagaimana perilakunya, (5) memahami bagaimana jalan pikirannya, (6) melihat bagaimana tokoh lain berbicara tentangnya, (7) melihat bagaimana tokoh lain berbincang dengannya, (8) melihat bagaimana tokoh-tokoh lain memberikan reaksi terhadapnya, dan (9) melihat bagaimana tokoh itu mereaksi tokoh yang lainnya.

Waluyo (2002:14—17) mengklasifikasikan tokoh berdasarkan peranannya terhadap jalan cerita, sebagai berikut.

  • Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang mendukung cerita. Biasanya ada satu atau dua figur tokoh protagonis utama, yang dibantu oleh tokoh-tokoh lainnya yang ikut terlibat sebagai pendukung cerita.
  • Tokoh antagonis, yaitu tokoh penentang cerita. Biasanya ada seorang tokoh utama yang menentang cerita, dan beberapa figur pembantu yang ikut menentang cerita.
  • Tokoh tritagonis, yaitu tokoh pembantu, baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis.

Sementara, Pratiwi dan Siswiyanti (2014:36—39) mengklasifikasikan berdasarkan ada tidaknya tokoh dalam hubungannya dengan tema, tokoh dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

  • Tokoh utama adalah tokoh yang diposisikan sebagai pusat dalam pengembangan cerita, sehingga ia dihadapkan pada permasalahan utama menentukan gerak dan alur cerita. Dalam tokoh utama terdapat dua tokoh, yakni tokoh protagonis dan tokoh antagonis.
  • Tokoh Pembantu adalah tokoh yang memegang peran sebagai pelengkap dalam mata rangkai cerita.
  • Setting atau Latar

Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2007:216) mengatakan bahwa “Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyarankan pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan”.

Setting atau latar naskah drama adalah satuan tempat, waktu, dan suasana saat berlangsungnya suatu peristiwa dalam drama. Setting bersifat fisik dan psikologis. Latar tempat dan waktu merupakan setting yang bersifat fisik. Sedangkan setting yang bersifat psikologis berupa suasana atau atmosfer psikologis yang menuansakan makna tertentu (Pratiwi dan Siswiyanti, 2014:85).

Pratiwi dan Siswiyanti (2014:89—91) mengatakan setting dalam naskah drama diwujudkan dalam tiga bentuk, yaitu sebagai berikut.

  • Setting tempat merupakan latar tempat terjadinya peristiwa dalam naskah drama. Setting tempat disebut setting Pengarang biasanya menunjukkan setting tempat secara eksplisit melalui deskripsi sebelum pemaparan dialog antartokoh.
  • Setting waktu merupakan latar penceritaan dalam naskah drama yang menunjukkan keterangan satuan waktu.
  • Setting suasana berhubungan dengan suasana yang dibangun dalam cerita. Setting suasana berhubungan dengan kondisi psikologis tokoh. Setting suasana dibentuk berdasarkan konflik-konflik yang tercipta dalam tahapan plot.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa setting atau latar merupakan penggambaran yang mencakup tempat, waktu, dan suasana dalam naskah drama. Latar membuat pembaca merasa dipermudah untuk mengoperasikan daya imajinasinya, di samping dimungkinkan untuk berperan secara kritis sehubungan dengan pengetahuannya tentang latar. Pembaca dapat menilai dan merasakan kebenaran, ketepatan, dan aktualisasi latar yang diceritakan sehingga merasa lebih akrab.

  • Alur atau Plot

Plot adalah tahapan peristiwa dalam naskah drama yang berisi urutan kejadian yang saling berhubungan dan menunjukkan sebab akibat. Terdapat tahapan-tahapan dan perubahan cerita dari satuan waktu ke waktu yang lain melibatkan tokoh, berisi konflik, dan menggunakan latar pembangun cerita. Plot juga dinyatakan sebagai kerangka cerita naskah drama yang mengandung garis besar isi peristiwa mulai awal hingga akhir cerita (Pratiwi dan Siswiyanti, 2014:46—47).

Alur dan plot merupakan dua istilah yang berbeda, tetapi sering diartikan sama. Plot bukanlah alur, tetapi alur di dalamnya terdapat plot. Alur dirangkai dalam jalinan plot. Alur tanpa plot akan membuat cerita menjadi kering dan kurang menarik karena alur hanya menjalin cerita atau peristiwa tanpa konflik (Pratiwi dan Siswiyanti, 2014:47—48).

Pratiwi dan Siswiyanti (2014:48—52) dalam membangun susunan plot ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut.

  • Plausibilitas adalah pemaparan secara logis cerita yang dibangun dalam naskah drama agar dapat dipercaya oleh pembaca. Cerita dalam naskah drama harus di dasarkan pada kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nyata dan dapat diterima oleh logika.
  • Suspense adalah ketegangan yang diciptakan dalam jalinan-jalinan peristiwa melalui konflik. Suspense tidak mengantarkan pembaca pada rasa keingintahuan, tetapi juga mampu mengikat pembaca seolah-olah terlibat dalam kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan dialami oleh tokoh.
  • Surprise adalah sebuah jalinan cerita dikatakan menarik apabila mampu memberikan kejutan yang tidak terduga oleh pembaca. Kejutan-kejutan yang dimunculkan pengarang dalam cerita sering disebut surprise. Jalinan peristiwa dalam cerita dapat dikatakan memiliki surprice apabila mengandung kejadian atau peristiwa yang menyimpang dan tidak pernah diduga oleh pembaca.

Tahapan alur atau plot dipaparkan Pratiwi dan Siswiyanti (2014:64—81) sebagai berikut.

  • Eksposisi (Exposition) merupakan tahapan pengenalan. Pengarang memberikan penjelasan tentang tempat dan waktu terjadinya peristiwa, memperkenalkan tokoh yang berperan mengembangkan cerita, serta informasi-informasi penting yang ingin disampaikan pengarang yang terkait dengan lakon (cerita).
  • Tahapan pengenalan konflik untuk menghangatkan suasana (Inciting Force) adalah tahapan plot yang menunjukkan lahirnya suatu permasalahan atau pertentangan antartokoh. Tahapan ini bertujuan untuk menimbulkan kesan menarik bagi pembaca (kesan pertama).
  • Tahap penanjakan laku (Rising Action) yaitu peristiwa penggerak cerita menuju klimaks melalui penanjakan (laku).
  • Krisis (Crisis). Tahapan ini berkedudukan setelah adegan penggawatan (rising action). Tahapan rising action merupakan dasar penciptaan tahapan plot yang lebih tinggi yaitu crisis. Pada tahap crisis, suasana yang diciptakan dalam cerita sudah semakin memanas dan menuju klimaks.
  • Klimaks (Climax) harus terletak di dekat titik penyelesaian karena sesudah tahapan ini semuanya seketika atau secara perlahan akan berakhir.
  • Penurunan Laku (Falling Action) merupakan keadaan ketika kadar konflik sudah menurun sehingga ketegangan mulai surut.
  • Konklusi (conclusion) merupakan tahap penyelesaian dalam cerita drama. Tujuannya adalah untuk membawa penonton pada dunianya sendiri, membuat jarak antara kejadian estetis dengan kejadian yang sebenarnya, dan penurunan gejolak emosi pada diri pembaca.

Kemudian, Pratiwi dan Siswiyanti (2014:81—83) membagi jenis alur atau plot menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

  • Alur Linear adalah alur ynag dibangun dengan pemaparan perisitiwa berdasarkan urutan waktu. Plot linear menggunakan alur maju dan tergolong alur padat yang disajikan secara cepat.
  • Alur Sirkuler adalah alur yang memaparkan suatu rangkaian secara progresif sampai tahapan tertentu, kemudian kembali ke suatu peristiwa sebelumnya sampai tahapan tertentu pula. Peristiwa yang digambarkan dalam cerita tidak begitu dapat berkembang dan hanya berkutat pada satu pokok permasalahan.
  • Tema

Menurut Wiyanto (2002:23) “Tema adalah pikiran pokok yang mendasari  lakon drama. Pikiran pokok ini dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi  cerita yang menarik. Tema sebagai dasar cerita tentu masih terlalu luas, untuk  menyempitkannya perlu dipilih topik”. Jadi, seorang penulis harus menentukan lebih dulu tema yang akan dikembangkannya.

Menurut Scharbach (dalam  Aminuddin, 2004:91) “Tema adalah ide yang  mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya”. Sebelum melakukan proses kreatif penciptaan, seorang pengarang harus memahami benar tema cerita yang akan ditulisnya.

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa tema  adalah titik permasalahan yang digunakan pengarang untuk menulis cerita atau drama. Tema ini merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan terkandung di dalam teks yang menjadi dasar pengembangan seluruh cerita yang juga menjiwai seluruh cerita itu.

  • Amanat

Menurut Wiyanto (2002:24) “Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca naskah atau penonton drama. Pesan disampaikan secara tidak langsung melalui lakon naskah drama”. Itulah mengapa drama disebut juga dengan sandiwara, karena drama mengandung ajaran-ajaran moral yang disampaikan secara tidak terang-terangan (rahasia). Dengan demikian pembaca atau penonton drama sebenarnya tidak hanya dihibur, melainkan juga diajari.

Menurut Waluyo (2002:28) “Amanat yang hendak disampaikan pengarang melalui dramanya harus dicari oleh pembaca atau penonton”. Amanat sebuah drama akan mudah dihayati penikmat jika drama itu dipentaskan. Setiap pembaca dapat berbeda-beda menafsirkan makna karya itu bagi dirinya, dan semuanya cenderung dibenarkan.

Dari kedua pendapat di atas, untuk mengetahui amanat yang hendak disampaikan pengarang melalui dramanya harus dicari baik oleh pembaca maupun penonton. Amanat sebuah drama akan lebih mudah dihayati penikmat jika drama itu dipentaskan. Amanat biasanya memberikan manfaat dalam kehidupan praktis. Setiap pembaca dapat berbeda-beda menafsirkan makna karya itu bagi dirinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s